Pernahkah kita merasa kesepian, meski sedang dikelilingi banyak orang? Ada yang sibuk menggulir TikTok, membalas chat, atau tertawa kecil sambil menatap layar. Pemandangan seperti ini kini menjadi hal yang biasa di berbagai tempat, waktu, dan suasana.
Menurut laporan We Are Social tahun 2025, rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari delapan jam enam menit per hari di dunia digital—salah satu angka tertinggi di dunia. Ironisnya, di balik semangat “terhubung” lewat internet, justru muncul jarak baru antar manusia di kehidupan nyata.
Kita semakin sering berinteraksi lewat emoji dan komentar, namun semakin jarang benar-benar menatap mata orang lain dan berbicara dari hati ke hati. Para sosiolog menyebut fenomena ini sebagai *mager sosial*—malas bersosialisasi secara langsung karena terlalu nyaman berinteraksi di dunia maya.
Dampaknya terasa nyata. Nilai-nilai sosial yang dulu begitu kuat, seperti gotong royong dan solidaritas, perlahan memudar. Survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat penurunan partisipasi masyarakat dalam kegiatan sosial hingga 12 persen dibandingkan lima tahun sebelumnya. Angka itu mungkin tampak kecil, tapi cukup untuk menggambarkan perubahan besar dalam perilaku sosial kita.
Aktivitas yang dulu menjadi rutinitas—kerja bakti, arisan warga, atau sekadar ngobrol sore di warung—kini makin jarang dilakukan. Dunia nyata perlahan kalah menarik dibanding dunia maya yang serba cepat, praktis, dan penuh distraksi.
Dulu, ruang sosial kita dipenuhi tawa, obrolan ringan, dan tatapan hangat antarwarga. Kini, semuanya digantikan oleh notifikasi, like, dan pesan singkat tanpa emosi. Banyak orang merasa lebih nyaman berkomunikasi lewat layar karena bisa mengontrol respon dan tampilan diri. Namun di sisi lain, hubungan antarindividu kehilangan keaslian dan kedekatan. Kita semakin pandai menulis status, tapi semakin canggung berbicara langsung.
Dunia digital memang memberi kemudahan luar biasa, tetapi juga menumbuhkan dinding halus yang membuat kita perlahan kehilangan makna kebersamaan. Mager sosial bukan sekadar kebiasaan baru, melainkan cerminan krisis nilai dalam kehidupan masyarakat modern.
Kita terlalu larut dalam dunia maya hingga lupa bahwa manusia sejatinya makhluk sosial yang membutuhkan tatapan, suara, dan kehadiran nyata. Teknologi memang memudahkan hidup, tetapi tanpa kesadaran sosial, ia dapat membuat kita kehilangan sisi kemanusiaan.
Saya tidak menolak kemajuan digital—itu bagian dari perubahan zaman yang harus kita jalani. Namun yang paling penting adalah bagaimana kita tetap mampu mengendalikan teknologi, bukan malah dikendalikan olehnya. Dunia maya seharusnya memperkuat hubungan antarmanusia, bukan menggantikannya.
Karena itu, sudah saatnya kita menata ulang cara bersosialisasi di tengah derasnya arus digital. Kembalikan makna interaksi sosial yang sebenarnya, dimulai dari hal-hal sederhana: mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian, menatap tanpa terganggu layar, ikut kegiatan sosial di lingkungan sekitar, atau sekadar menyapa orang yang kita temui.
Sekecil apa pun, tindakan nyata lebih bermakna daripada seribu unggahan di media sosial. Selain itu, pendidikan juga perlu berperan aktif menanamkan kesadaran digital yang beretika dan manusiawi—bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi.
Perubahan sejati selalu bermula dari diri sendiri. Generasi muda, termasuk kita, memiliki peran besar untuk menjadi penggerak perubahan itu. Kita bisa tetap aktif di dunia maya tanpa kehilangan sentuhan sosial di dunia nyata. Kita bisa tetap modern tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Manusialah yang menentukan: apakah alat itu akan membuat kita semakin dekat, atau justru semakin sendiri.
Ulfaturriski adalah lulusan Institut Agama Islam (IAI) Al Khairat, angkatan 2024, yang aktif menulis tema sosial dan budaya. Selain menulis, ia juga melukis sebagai bentuk ekspresi dan refleksi kehidupan. Penulis bisa dijumpai di Instagram: @Ulpaqiqi | @Pena_nyenye





