Analisa, Ciputat – Kolaborasi KOHATI Komisariat se-Ciputat menggelar kegiatan “Girls Speak Movie Forum”dalam rangka memperingati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP), Kamis (25/12).

Kegiatan tersebut berlangsung di Sekretariat HMI Komfakda, dengan agenda utama pemutaran dan diskusi film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak karya Mouly

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Surya.

Ketua Umum KOHATI Komfaksy, Shada Nida, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan membuka ruang refleksi dan dialog mengenai realitas kekerasan terhadap perempuan yang masih terjadi hingga saat ini. Ia menilai peringatan HAKTP perlu diisi dengan kegiatan yang mendorong kesadaran kritis.

Girls Speak Movie Forum menjadi ruang jeda, tempat kita merenung, mendengar, dan berani bertanya, mengapa suara perempuan masih harus terus diperjuangkan?” ujar Shada.

Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak dipilih sebagai bahan diskusi karena mengangkat tema kekerasan terhadap perempuan melalui pendekatan narasi yang minim dialog. Film tersebut menggambarkan pengalaman perempuan dalam menghadapi kekerasan serta respons yang muncul akibat keterbatasan perlindungan dan akses keadilan.

Setelah pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi yang dipantik oleh Tanaya Tabina Maritza (KOHATI Komfaksy) dan Khayla

Angraini (KOHATI Kafeis). Dalam pemaparannya, Tanaya menyoroti tindakan tokoh Marlina sebagai respons atas kondisi ketidakadilan yang dialami.

Ia menyampaikan bahwa dalam banyak kasus, keberanian perempuan untuk melawan kekerasan justru kerap dipersoalkan ketika sistem dan lingkungan sosial tidak memberikan perlindungan yang memadai.

Sementara itu, Khayla menekankan adanya kondisi “sunyi” yang sering dialami korban kekerasan seksual. Menurutnya, situasi tersebut muncul karena korban tidak dipercaya, merasa takut untuk berbicara, serta menghadapi proses keadilan yang dirasakan sulit diakses.

Ia menilai tokoh Marlina merepresentasikan pengalaman banyak perempuan yang harus menanggung trauma secara individual, sementara pelaku kerap terhindar dari pertanggungjawaban.

Diskusi kemudian berkembang dengan partisipasi peserta yang mengaitkan film dengan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan yang masih terjadi di lingkungan domestik, kampus, tempat kerja, dan ruang publik. Forum ini menjadi wadah pertukaran pandangan mengenai kekerasan terhadap perempuan sebagai persoalan sosial yang memerlukan perhatian bersama.

Melalui kegiatan tersebut, penyelenggara berharap forum diskusi film dapat menjadi salah satu sarana edukasi dan refleksi dalam memperingati HAKTP, sekaligus memperkuat kesadaran kolektif mengenai pentingnya menciptakan ruang aman bagi perempuan.