Jakarta — Di tengah tantangan ekonomi global dan tekanan domestik yang kian kompleks, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampil dengan sikap optimistis yang jarang terlihat di kalangan pejabat publik. Dalam sebuah diskusi eksklusif, ia memaparkan pandangan yang tak lazim namun terukur: kebijakan ekonomi harus menyentuh langsung kehidupan rakyat, bukan sekadar berhenti pada angka-angka pertumbuhan.
Purbaya tidak menampik bahwa pemerintah menghadapi warisan masalah dari kebijakan fiskal dan moneter sebelumnya. Namun, alih-alih menuding, ia memilih menata ulang. Strategi baru yang diusungnya berfokus pada penguatan sektor keuangan melalui penyuntikan dana ke perbankan nasional, mendorong penyaluran kredit, dan memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil dan menengah.
“Kami ingin memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya menjadi statistik di atas kertas, tetapi benar-benar terasa di dapur rakyat,” kata Purbaya saat menjadi bintang tamu di Garuda Tv.
Dalam pandangannya, ekonomi adalah siklus yang tak terhindarkan. Purbaya menyebut Indonesia sudah berkali-kali menghadapi badai — dari krisis 1998 hingga pandemi Covid-19 — dan selalu menemukan cara untuk bangkit. Ia menilai bahwa kemampuan belajar dari masa lalu menjadi kunci dalam mengelola gejolak ekonomi masa kini.
Meski begitu, ia juga menyadari tantangan dalam menyampaikan konsep ekonomi yang kompleks kepada publik. Menurutnya, kebijakan yang baik akan sulit diterima tanpa komunikasi yang sederhana dan jujur.
“Masyarakat berhak memahami arah kebijakan ekonomi. Tugas kami adalah menjelaskan dengan bahasa yang mudah, bukan menyembunyikan di balik istilah teknis,” ujarnya.
Berpengalaman di bawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo (Jokowi), Purbaya kini berada di posisi strategis dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia membandingkan perbedaan gaya dan pendekatan tiap era, namun menegaskan satu benang merah: perlunya sinergi antara pemerintah dan sektor swasta.
Kebijakan fiskal yang kuat, katanya, harus berjalan seiring dengan kepercayaan dunia usaha. “Negara tak bisa bergerak sendiri. Kita perlu kolaborasi untuk mendorong pertumbuhan yang berkeadilan,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Purbaya juga menegaskan sikap tegas terhadap transparansi anggaran. Ia menolak praktik-praktik yang berpotensi korup dan memastikan setiap alokasi dana publik diarahkan untuk pembangunan yang nyata di daerah.
“Integritas bukan sekadar jargon. Ini soal memastikan setiap rupiah bekerja untuk rakyat, bukan untuk kepentingan segelintir orang,” katanya menutup pembicaraan.





