PAMEKASAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk balita di Dusun Pokapoh, Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan menuai protes warga. Pasalnya, menu yang dibagikan kepada balita pada 6 Mei 2026 dan 8 Mei 2026 dinilai tidak sesuai standar gizi karena hanya berisi susu kotak dan buah jeruk.

‎Warga menilai menu yang diberikan terlalu sederhana dan belum memenuhi kebutuhan nutrisi balita yang seharusnya mendapatkan makanan bergizi seimbang untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

‎“Kalau untuk balita, seharusnya ada nasi, lauk, dan sayur. Ini hanya susu dan buah, tentu masyarakat mempertanyakan kecukupan gizinya,” ujar salah satu warga Dusun Pokapoh.

‎Dalam paket MBG yang diterima warga, menu hanya terdiri dari dua kotak susu dan satu buah jeruk yang dikemas menggunakan wadah plastik transparan. Tidak terlihat adanya makanan pokok, lauk hewani maupun nabati, serta sayuran sebagaimana standar menu gizi seimbang.

‎Padahal, berdasarkan pedoman Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menu balita wajib memenuhi prinsip “Isi Piringku” yang mencakup karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayuran, serta buah-buahan. Menu juga disusun berdasarkan Standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) Kementerian Kesehatan guna membantu pemenuhan energi dan nutrisi pertumbuhan anak.

‎Dalam pedoman tersebut, menu MBG balita umumnya terdiri dari nasi atau sumber karbohidrat lain, lauk hewani seperti telur, ayam atau ikan, lauk nabati seperti tahu dan tempe, sayuran, serta buah sebagai pelengkap. Bahkan penyusunan menu dilakukan dengan siklus 20 hari agar kebutuhan nutrisi anak tetap seimbang dan tidak monoton.

‎Contoh menu MBG balita yang sesuai standar antara lain semur daging, nasi, tempe bumbu kuning, jagung wortel, dan semangka. Ada pula kombinasi nasi, telur rebus, tahu goreng, sayur bening, serta buah naga.

‎Warga berharap pemerintah maupun pihak pelaksana program melakukan evaluasi terhadap kualitas menu MBG yang dibagikan kepada balita di wilayah tersebut.

‎Mereka khawatir jika menu tidak memenuhi standar gizi, tujuan utama program untuk mencegah stunting dan meningkatkan kesehatan anak tidak akan tercapai secara maksimal.

‎”Menunya hanya susu dan jeruk, ini sering seeprti ini, tidak ada karbo hidratnya,” pungkasnya.