Jakarta – Polemik sindiran mengenai donasi Rp10 miliar untuk korban banjir dan longsor di Sumatra akhirnya mereda setelah Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Gerindra, Endipat Wijaya, mengambil langkah langsung dengan menghubungi konten kreator Ferry Irwandi.
Dalam percakapan tersebut, Endipat menyampaikan permintaan maaf secara pribadi atas pernyataannya yang sebelumnya memicu perdebatan publik.
Ferry memastikan permintaan maaf tersebut diterima, sekaligus menegaskan dirinya tidak merasa tersinggung ataupun memiliki masalah pribadi dengan Endipat.
Kejadian ini sempat ramai dibicarakan lantaran publik mempertanyakan konteks sindiran yang disampaikan Endipat.
Namun, langkah cepatnya dalam memberikan klarifikasi dinilai membantu meredakan tensi dan menghentikan spekulasi yang berkembang di media sosial.
Sejumlah warganet juga menyambut positif keputusan kedua pihak untuk menyelesaikan persoalan secara langsung tanpa memperpanjang polemik.
Di tengah meredanya isu tersebut, perhatian publik kembali bergeser pada laporan harta kekayaan Endipat. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang disampaikan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 26 Maret 2025 untuk periode 2024, Endipat tercatat memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp14 miliar dengan status tanpa utang.
Angka ini memosisikan dirinya sebagai salah satu legislator yang memiliki struktur kekayaan cukup solid dan terdistribusi di beberapa sektor.
Aset terbesar Endipat berada pada kategori surat berharga dengan nilai Rp5 miliar. Porsi ini menggambarkan orientasi investasi yang kuat, sekaligus menunjukkan latar belakangnya sebagai pengusaha sebelum terjun ke dunia politik.
Selain investasi, Endipat juga memiliki sejumlah kendaraan mewah dengan total nilai Rp2,596 miliar. Koleksi tersebut terdiri dari GWM Tank 500 HEV keluaran 2024 senilai Rp1,196 miliar, Toyota Alphard tahun 2021 senilai Rp1 miliar, serta Honda CR-V tahun 2019 senilai Rp400 juta.
Pada sektor properti, Endipat mencatatkan kepemilikan tanah dan bangunan dengan nilai Rp2,5 miliar. Seluruh aset properti tersebut merupakan hasil perolehan sendiri dan tersebar di wilayah Jabodetabek. Aset itu meliputi sebidang tanah seluas 123 meter persegi di Tangerang Selatan senilai Rp1 miliar, sebidang tanah 205 meter persegi di Kabupaten Bogor senilai Rp1 miliar, serta tanah 105 meter persegi di lokasi lain di Bogor dengan nilai Rp500 juta.
Aset likuid juga menjadi bagian penting dari portofolionya. Endipat melaporkan kas dan setara kas sebesar Rp2,207 miliar yang tersimpan dalam beberapa rekening bank dan kas kecil.
Dengan tidak adanya utang yang tercatat dalam laporan LHKPN tersebut, struktur kekayaan Endipat dinilai berada dalam kondisi sehat dan stabil.
Latar belakangnya sebagai pengusaha kerap disebut sebagai faktor utama yang membentuk pola distribusi aset yang terdiversifikasi, mulai dari investasi, properti, hingga kas.
Kehadirannya di DPR RI sebagai anggota Komisi I—yang membidangi pertahanan, intelijen, luar negeri, dan komunikasi—menempatkannya sebagai salah satu politikus yang cukup mendapat perhatian publik, terutama dalam isu-isu yang bersentuhan dengan ruang digital.





