Analisa, Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Silaturahim Alim Ulama di Gedung PBNU, Jakarta, Ahad (23/11) malam. Pertemuan ini menghasilkan tiga kesepakatan internal yang disampaikan Katib Aam PBNU KH Ahmad Said Asrori.
“Alhamdulillah hirobbil ‘alamin pada malam ini kami semua bersyukur terlaksananya silaturahim alim ulama di Kantor PBNU lantai delapan ini, yang telah menghasilkan kesepakatan bersama,” ujar Kiai Asrori usai acara menjelang tengah malam.
Ia menyebutkan, kesepakatan pertama adalah usulan para kiai agar diselenggarakan silaturahim yang lebih besar di kalangan alim ulama sebagai bagian dari upaya islah, menyusul adanya dinamika yang menjadi perhatian publik di internal PBNU.
Kesepakatan kedua adalah komitmen bahwa kepengurusan PBNU tetap berjalan hingga masa khidmat berakhir dalam satu periode, yaitu sekitar satu tahun lagi. “Sepakat kepengurusan PBNU harus selesai sampai satu periode, semuanya, tidak ada pemakzulan, tidak ada pengunduran diri, semua sepakat begitu, semua gembleng 100 persen,” ujarnya.
Kesepakatan ketiga, lanjutnya, seluruh pihak diminta melakukan tafakur serta mujahadah demi kebaikan organisasi dan masyarakat luas. “Jadi sekali lagi, tidak ada pengunduran dan tidak ada pemaksaan pengunduran diri, tidak ada, ini sekali lagi saya tegaskan, tidak ada,” kata Kiai Asrori.
Ia menambahkan, struktur PBNU mulai dari Rais Aam, Ketua Umum, hingga jajaran kepengurusan tetap berjalan hingga Muktamar mendatang. Pergantian kepengurusan, menurutnya, hanya dapat dilakukan melalui Muktamar sesuai AD/ART dan Peraturan Perkumpulan.
Sebelumnya, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan tidak memiliki rencana mundur dari jabatannya di tengah dinamika organisasi.
“Masa amanah yang saya terima dari Muktamar ke-34 berlaku selama lima tahun dan akan dijalankan secara penuh,” ujar Gus Yahya di Surabaya, usai rapat koordinasi dengan sejumlah PWNU pada Ahad (24/11) dini hari.
Ia juga menyampaikan belum menerima surat resmi terkait isu internal yang beredar, termasuk dokumen risalah rapat harian Syuriyah pada Kamis (20/11) yang mencantumkan permintaan agar dirinya mundur.
Menurutnya, dokumen yang beredar perlu diverifikasi keabsahannya, termasuk melalui tanda tangan digital yang digunakan dalam administrasi PBNU.
Selain itu, ia menegaskan Syuriyah PBNU tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikan ketua umum maupun pengurus struktural lainnya. Meski demikian, Gus Yahya menyatakan tetap mengupayakan langkah terbaik bagi organisasi.
“Saya sudah menjalin komunikasi dengan jajaran Syuriyah. Saya berharap rekonsiliasi internal dapat segera diwujudkan bersama para kiai sepuh dan jajaran struktur terkait,” ujarnya.
Gus Yahya juga menepis tuduhan publik, termasuk isu terkait aliran dana ratusan miliar. Ia menegaskan tidak akan mengambil langkah apa pun tanpa data dan bukti yang jelas. Hari ini ia dijadwalkan bertemu para ulama untuk berdiskusi serta meminta nasihat dalam menjaga keutuhan PBNU.





