PANGKALPINANG – Industri pertambangan timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) selalu menarik perhatian nasional. Di tengah ketatnya persaingan bisnis komoditas ini, nama PT Mitra Stania Prima (MSP) mencuat sebagai salah satu raksasa yang disegani setelah sukses mengukuhkan posisinya sebagai perusahaan pertambangan timah terbesar ketiga di Indonesia.
Namun, di balik operasional masif dan kejayaan perusahaan yang berbasis di Mapur dan Sungailiat ini, publik kerap dibuat penasaran: siapa sebenarnya sosok kuat yang mengendalikan gurita bisnis tersebut?
Di sisi lain, seiring dengan kejayaannya, PT MSP kini juga tengah menghadapi ujian berat setelah namanya terseret dalam pusaran dugaan manipulasi dokumen dan penampungan timah ilegal yang merugikan negara hingga puluhan miliar rupiah.
Gurita Bisnis Keluarga Djojohadikusumo
Pemilik dan pengendali utama di balik PT Mitra Stania Prima bukanlah orang sembarangan. Perusahaan ini disokong penuh oleh kekuatan dinasti bisnis dan politik kelas kakap di Indonesia.
PT MSP merupakan anak usaha utama dari Arsari Tambang, lini bisnis pertambangan yang bernaung di bawah bendera Arsari Group. Pemilik sekaligus Chief Executive Officer (CEO) dari Arsari Group tidak lain adalah Hashim Djojohadikusumo.
Hashim dikenal luas sebagai salah satu konglomerat terkaya di Indonesia sekaligus adik kandung dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Pengaruh politik dan ekonomi yang melekat pada nama besar keluarga ini menjadikan posisi PT MSP di industri timah nasional menjadi sangat strategis dan berbobot.
Keseriusan keluarga Djojohadikusumo dalam mengelola PT MSP terlihat jelas dari komposisi elite yang duduk di kursi manajemen dan pengawasan. Kursi kepemimpinan perusahaan diisi langsung oleh figur-figur penting nasional:
1. Aryo Puspito Setyaki Djojohadikusumo (Direktur Utama PT MSP & Arsari Tambang): Putra kandung Hashim Djojohadikusumo sekaligus keponakan Presiden Prabowo Subianto ini memegang kendali penuh sebagai Direktur Utama untuk memimpin ekspansi dan arah strategis perusahaan.
2. Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono (Komisaris Utama / Dewan Pengawas): Tokoh yang juga dikenal luas di kancah perekonomian dan politik nasional ini merupakan keponakan langsung dari Prabowo dan Hashim yang menduduki posisi pengawasan.
Keberadaan nama-nama besar ini menegaskan bahwa PT MSP bukan sekadar perusahaan tambang lokal biasa, melainkan sebuah korporasi dengan jaringan pengaruh yang menembus pusat kekuasaan di Jakarta.
Rantai Pasok Disorot: Diduga Tampung Timah Ilegal
Di tengah reputasi besarnya, tata kelola pertambangan PT MSP kini sedang berada di bawah mikroskop penegak hukum. Berdasarkan fakta yang mulai terkuak dalam persidangan kasus tambang timah ilegal di Pengadilan Negeri Pangkalpinang, nama PT MSP ikut terseret dan disebut sebagai bagian dari rantai pasok yang bermasalah.
Dalam sidang pembacaan dakwaan terhadap tiga terdakwa—Herman Fu, Yulhaidir, dan Iguswan Sahputra—Jaksa Penuntut Umum (JPU) membeberkan adanya modus manipulasi dokumen. Pasir timah yang ditambang secara liar tanpa izin dari kawasan hutan produksi dan hutan lindung di Bangka Tengah dikondisikan sedemikian rupa seolah-olah berasal dari wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang sah.
Diduga kuat material ilegal ini mengalir dari penambang liar melalui jaringan kolektor yang tersebar di wilayah Bangka Tengah (Koba), Bangka Barat, dan Bangka Induk, sebelum akhirnya masuk ke industri peleburan (smelter).
Aktivitas lancung yang melibatkan manipulasi dokumen rantai pasok ini diperkirakan telah memicu kerusakan ekologis yang masif serta merugikan keuangan negara hingga Rp 87,4 miliar.
Kendati namanya disebut dalam persidangan, keterlibatan PT MSP masih dalam tahap pembuktian hukum dan belum menjadi keputusan inkrah pengadilan yang menyatakan adanya kesalahan dari pihak manajemen perusahaan.
Kekuatan Produksi dan Komitmen Lingkungan
Sebelum diterpa isu rantai pasok ilegal ini, PT MSP dikenal sangat agresif mengelola konsesi tambang darat di Mapur, Kabupaten Bangka, yang merupakan salah satu cadangan timah aktif terbesar di Indonesia.
Dengan modal kuat dari Grup Arsari, perusahaan ini bahkan memiliki fasilitas peleburan (smelter) dan pemurnian mandiri dengan kapasitas produksi ribuan ton logam timah per tahun untuk pasar ekspor.
Di bawah kepemimpinan Aryo Djojohadikusumo, PT MSP juga sempat gencar menyelaraskan visi bisnisnya dengan komitmen lingkungan. Di kancah nasional, korporasi ini bahkan berhasil menyabet penghargaan prestisius seperti Proper Emas dan Green Leadership Proper dari Kementerian Lingkungan Hidup RI atas dedikasinya dalam program reboisasi dan ekonomi hijau di Bumi Serumpun Sebalai.
Kini, ujian sesungguhnya bagi sang “Raksasa” timah ada pada transparansi dan audit tata kelola internal mereka. Publik dan para pengamat tata kelola pertambangan menunggu bagaimana dinasti bisnis matang ini mampu membuktikan kebersihan rantai pasoknya di hadapan hukum, sekaligus mempertahankan dominasi industri timah tanah air secara bersih dan terintegrasi.





