Analisa.co– Industri timah di Bangka Belitung kembali menjadi sorotan publik. PT Mitra Stania Prima (MSP), salah satu perusahaan tambang timah terbesar di Indonesia, ikut menjadi perhatian setelah namanya muncul dalam persidangan dugaan pertambangan timah ilegal di Pengadilan Negeri Pangkalpinang.

PT MSP dikenal sebagai perusahaan yang beroperasi di wilayah Mapur dan Sungailiat. Perusahaan ini memiliki posisi strategis dalam industri timah nasional karena terhubung dengan Arsari Tambang, bagian dari Arsari Group yang dipimpin Hashim Djojohadikusumo.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Keterkaitan tersebut juga terlihat dalam struktur perusahaan. Aryo Puspito Setyaki Djojohadikusumo menempati posisi penting di jajaran manajemen, sementara Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono berada dalam struktur pengawasan perusahaan.

Sorotan terhadap PT MSP menguat setelah jaksa dalam persidangan perkara Herman Fu, Yulhaidir, dan Iguswan Sahputra mengungkap dugaan rekayasa dokumen asal-usul pasir timah. Material yang diduga berasal dari tambang ilegal disebut dibuat seolah-olah berasal dari wilayah yang memiliki izin pertambangan.

Jaksa menduga material dari aktivitas tambang tanpa izin dikumpulkan melalui jaringan pengepul di sejumlah wilayah Bangka Belitung sebelum masuk ke rantai industri pengolahan. Dalam konteks rantai pasok itulah nama PT MSP disebut di persidangan.

Meski demikian, penyebutan nama PT MSP dalam persidangan tidak serta-merta membuktikan adanya keterlibatan atau tindak pidana yang dilakukan oleh manajemen perusahaan. Seluruh dugaan tersebut masih harus dibuktikan melalui proses hukum yang berjalan.

Dalam perkara itu, jaksa juga mengungkap dugaan kerugian negara mencapai sekitar Rp87,4 miliar, disertai dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan tanpa izin.

Sebelum perkara ini mencuat, PT MSP dikenal memiliki bisnis yang terintegrasi, mulai dari kegiatan penambangan, pengolahan, hingga pemurnian timah. Perusahaan juga pernah memperoleh penghargaan lingkungan, seperti Proper Emas dan Green Leadership Proper, atas program pengelolaan lingkungan dan keberlanjutan.

Kini, perhatian publik tidak hanya tertuju pada kapasitas produksi PT MSP, tetapi juga pada tata kelola rantai pasok perusahaan. Transparansi dan kepastian asal-usul bahan baku menjadi isu penting yang dinilai menentukan kepercayaan publik terhadap industri timah di Bangka Belitung.